Dibalik Rencana Kenaikan Harga BBM

Akhir-akhir ini bangsa kita seolah tidak pernah berhenti menghadapi persoalan yang sangat serius, masih segar dalam ingatan kita bagaimana kasus bank century, mafia pajak, Korupsi yang melibatkan pejabat mulai dari eksekutif, yudikatif dan legislatif, yang belum bisa diselesaikan sampai saat ini. Belum lagi harga minyak dunia yang mencapai USD 110/barel, menyebabkan pemerintah harus berpikir keras untuk mencari solusi atau jalan keluar untuk mempertahankan kestabilan Perekonomian Indonesia. Setelah dilakukan pengkajian dan sampai saat ini belum ada keputusan final apakah pembatasan harga BBM jadi dilaksanakan atau menaikkan harga BBM jenis premium bersubsidi dari 4.500 menjadi 6.000. Dengan kenaikan harga BBM tersebut, membuat mahasiswa kembali melakukan aksi dengan turun ke jalan (demonstrasi) menolak kenaikan harga BBM tersebut. Sayangnya pemerintah kurang menanggapi tuntutan mahasiswa tersebut, sehingga menimbulkan terjadinya ketengangan antara mahasiswa dan aparat kepolisian yang menjurus ke tindakan anarkis seperti yang terjadi di kampus kampus UKI, dan beberapa kampus yang tersebar di Indonesia. Jika sebelumnya pemerintah cuek menanggapi aksi mahasiswa/aktivis tersebut. Sekarang berbeda, untuk meredam Aksi mahasiswa turun ke jalan, pemerintah mengumpulkan Pengurus BEM dan Ketua-ketua OKP untuk difasilitasi jalan-jalan ke Cina. Hal ini juga menuai kontroversi di kalangan Mahasiswa/aktivis.

Memang kalau sudah menjadi pemimpin di negeri ini enak sekali dalam sekejab bisa menjadi orang kaya dan menjadi bos besar walaupun  rakyatnya hanya bisa makan nasi aking seperti yang terjadi di NTT. Sekedar informasi, tahun 2003 anggaran DPR RI 383 Milyar atau 0,1 % dari APBN-nya (Rp 370,6 Triliun). Dalam tahun 2007 anggaran DPR menjadi Rp 1.519 Milyar atau 0,2 % dari APBN-nya (Rp 746,5 Triliun). Dengan kata lain pos anggaran DPR tahun 2007 adalah 397% anggaran DPR 2003 atau naik 297% atau naik 1.1 Triliun. Sedangkan APBN tahun 2007 hanya 201% APBN 2003 atau naik 101%. Dengan jumlah anggota DPR 550 orang maka bila rata-rata anggaran 2007 per-anggota DPR sekitar Rp 2.760 M atau 230 juta perbulan. 
Memang cukup sulit melihat figur pemimpin yang memiliki integitas, pendirian yang kokoh, yang mencintai bangsa dan rakyatnya seperti Bung Karno dan Bung Hatta di zaman ini. Kepemimpinan silih berganti tetapi perbaikan dari segala lini seolah tidak pernah dirasakan oleh masyarakat yang ada hanyalah kemelaratan, dan kemiskinan yang semakin bertambah, pengangguran semakin banyak. Kalau kita mereview berapa pendapatan Anggota DPR per-bulan dibanding ekonomi rakyat antara langit dan bumi. 

Hal ini menjadi dilema, yang kaya semakin kaya sementara yang miskin semakin miskin karena ketidakmampuan untuk menghadapi tantangan dan sulitnya hidup. Tetapi terlepas dari argumentasi diatas, bahwa pertanyaan yang paling sangat prinsip adalah Dampak Kenaikan BBM ? dan apakah kenaikan ini menjadi satu-satunya solusi untuk menjaga kestabilan perekonomian Nasional ? mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang. Semoga kedepan indonesia semakin maju dan rakyatnya semakin sejahtera. Semoga.

Oleh: Tongam Sinambela
subscribe

Subscribe

Monitor continues to update the latest from This blog directly in your email!

oketrik