Sejalan dengan Visi dan Misi HIMAIKO, Child Development Club berupaya mewadahi sekaligus mengembangkan keprofesian mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) di bidang tumbuh kembang anak.
Adapun struktur kepengurusan Child Development Club, yaitu
Sekretaris: PUTRI WIKA SARI
Bendahara: NOFIA MUTIARA BAHRI
Anggotanya yaitu, R. DEWI SUCI, LIA NURJANAH, ASTARI SUKMANINGTYAS, HERTI HERNIATI, KARNILA SARI, dan RURY SETIANTI.
Program:
· SUPER NANNY Jr.
Tema: “Internalisasi Sembilan Pilar Karakter Sejak Dini, Awal Mula Kemajuan Moral Bangsa”.
Kegiatan “SUPER NANNY JUNIOR” adalah kunjungan rutin ke PAUD atau TK dengan dua kategori kegiatan, yaitu:
1. Nanny In Training

2. Nanny In Action
Saatnya
pelaksana kegiatan melakukan kunjungan ke sekolah yang tidak berbasis
karakter untuk mencoba mengimplementasikan hasil pembelajaran dari PAUD
dan TK berbasis karakter dengan mensosialisasikan sembilan pilar
karakter pada tiap awal kegiatan belajar mengajar dengan cara dan acara
yang kreatif sehingga anak aktif terlibat didalamnya.
Kegiatan “SUPER NANNY JUNIOR” diadakan
pada bulan April sampai Oktober 2010 di PAUD dan TK tidak berbasis
karakter yang terletak di luar lingkar kampus IPB Darmaga maupun wilayah
kabupaten Bogor.
· HTTV (Hari Tanpa Televisi Nasional)
Organisasi
yang tergabung dalam koalisi nasional ini diantaranya adalah Ikatan
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia, Yayasan Forum Indonesia Muda,
Universitas Al Azhar, HIMAIKO IPB, Universitas Mulawarman, FIKOM UNISBA, Universitas Dr Moestopo dan UI Jakarta.
Tujuan
diadakannya kegiatan ini adalah untuk mengurangi ketergantungan
masyarakat terhadap televisi serta ungkapan keprihatinan terhadap acara
televisi yang tidak berkualitas, juga mengurangi bahaya negatif TV pada
anak.
Selain itu, kegiatan ini menghimbau perusahaan-perusahan yang bergerak dibidang pertelevisian akan tergerak untuk mengubah tayangan-tayangan yang tidak berkualitas menjadi tayangan yang lebih berkualitas.
Fokusnya,
gerakan ini mengajak keluarga Indonesia untuk tidak menonton TV selama
sehari agar mereka dapat merasakan bahwa masih banyak kegiatan lain yang
lebih bernilai daripada menonton TV. Hal ini diserukan mengingat isi
tayangan yang kurang sehat dan tidak aman untuk anak serta jumlah jam
menonton TV pada anak yang sudah terlalu tinggi mencapai 1.600 jam
setahun, padahal waktu belajar mereka di sekolah hanya 750 jam setahun